selalu denganMu :)

Allah,sungguh ikhlas itu,berikanlah kepadaku. Sungguh sabar itu, anugerahkanlah di hatiku. Sungguh kesucian itu,kembalikanlah ke dalam jiwaku-jiwa kami. Jangan biarkan kami tersesat setelah lama berkasih sayang denganMu. Pertahankan kesucian jiwa, hati, dan pikiran kami. Ampuni setiap dosa dan ketidaksabaran kami, ketidakikhlasan kami, ketidakberdayaan kami.

kutunggu kau di garis depan perlawanan…!!!

Ya Alloh, kuatkanlah…..kuatkanlah….
Kaulah satu-satunya sumber kekuatan. teguhkan kepalan yang menyimpan citacita jihad menuju mahligai keridhoanMu. tanpaMu, kami bukan siapa-siapa. tanpaMu, kami tak berarti apa-apa. laa hawla wa laa quwwata illa billlaah….

wahai diri…
tak bosanbosan aku mengingatkanmu, bahwa kita masih dalam perjalanan panjang……

jalan para pejuang dan para pujangga peradaban nan mulia. jalan peperangan panjang para ksatria yang miliki kekuatan ruhiyah dan kemurnian ibadah. jalan tak bertepi hingga menapak tamantaman syurga. hingga syahid menjadi akhir dari segala….

apa kau letih kawan?

kau lelah?
aku pun iya
tapi, lupakanlah!
tak ada waktu untuk berkesah
teruslah bergerak, berhentilah mengeluh
pegang erat pundakku dan saling menguatkan ketika mulai terjatuh
hancurkan thagutthagut yang merupa dalam hati. memenggal setiap leherleher berhala yang bersemedi di jiwa. menerjang belantara hawa nafsu yang kian meraja dan setan yang terus menggoda…

dan doadoa yang kita titipkan dalam sujudsujud panjang. juga mimpimimpi yang kita rangkai di langitlangit malam bersama milyaran bintang. tak hanya sekadar merasa bisa, tapi juga bisa merasa. sejarah masih mencari aktoraktor baru untuk menuntaskan skenario abadi ini….

tidakkah kau ingin ikut mengambil bagian? menapak jejak-jejak kesholehan. menggenggam kuat dua pusaka yang telah diwariskan: alQuran alKareem dan sunnah Rosul yang mulia. juga surat yang dituliskan dengan dua warna: hitam pena para ulama dan merah darah para syuhada’….


wahai Robb,
sampaikanlah salamku padanya,
pada mereka yang dulu berteriak lantang: Hayya Bil Jihad!!
pada mereka yang dulu merangkulku erat dan menasehatiku agar tak jatuh.

sampaikanlah salamku padanya,
pada mereka yang dulu berjanji untuk selalu bersama dakwah.
pada mereka yang dulu mengajariku arti perjuangan dan makna keikhlasan.

kembalilah!!
kembalilah pada bingkai garis keteladanan yang mulia…
kembalilah pada barisan Ghuroba’ yang mencintai Alloh dan Allohpun mencintaiNya.
berapa banyak lagi tamparan yang kau butuhkan untuk menyadarkanmu? tidakkah kau lihat fitnah bertebaran membolakbalikkan haq dan batil dalam seketika. juga bumi yang semakin renta. semua manusia sedang menanti kedatangannya. saatnya hampir tiba. umat telah memanggilmanggil jiwamu. Islam telah menantimu menuju puncak kejayaan. rapatkan barisan rapatkan barisan!

tak ada waktu lagi, kawan…
kutunggu kau di garis depan perlawanan!!

GHUROBAA’…(moslem muwahhid)

Laisal gharibu huwalladzi faraqad diyara wadda’al aan
Walakinnal ghariba huwalladzi yajiddu wan naasu min haulihi yal’abun
Wa yash-hu wan naasu min haulihi yanaamun
Wa yasluku darbal khairi wan naasu fii dhalalihim yatakhaththathun
Wa shadaqasy syaa’iru idz yaquul:
Qaala lii shahiibun araaka ghariiba
Baina haadzal anaami duuna khaliili
Qultu, kalla! Balil anaamu ghariibun, ana fii ‘aalami wa haadzihi sabiilii
Haadza huwal ghariib: Ghariibun ‘indal ‘aabitsiina minal basyar
Walakinnahu ‘inda rabbih, fii maqaamin kariim

Bukanlah orang asing itu mereka yang berpisah dari negeri mereka dan mengucapkan selamat tinggal sekarang
Tapi orang asing itu ialah mereka yang tetap serius dikala manusia di sekelilingnya asyik bermain-main
Dan tetap terbangun ketika manusia disekelilingnya asyik tidur dengan lenanya
Dan tetap mengikuti jalan lurus dikala manusia dalam kesesatannya tenggelam
tanpa arah

Dan betapa benarnya sebuah syair ketika dia berkata
Berkata kepadaku para sahabat, ‘aku melihatmu sebagai orang asing’
Di antara orang banyak ini engkau tanpa teman dekat
Maka aku berkata, sekali-kali tidak! Bahkan orang banyak itulah yang asing, sedang aku berada di kehidupan dan inilah jalanku
Inilah orang asing itu
Asing di sisi mereka yang hidup sia-sia di antara manusia
Tetapi disisi Rabb-nya, mereka berada di tempat yang mulia

Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`

Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah
Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah

Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan

In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa
In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa

Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia
Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunyal ‘abiid
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid

Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina

Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`
Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`

Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari

Qaala Rasulullahi Shallallaahu ‘alaihi was Sallam
Bada-al Islamu ghariiban wa saya’uudu ghariiban kamaa bada-a
Fathuuba lil ghurabaa`

Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi was Sallam
Islam itu bermula dari asing, dan akan kembali asing seperti mulanya
Maka beruntunglah orang-orang yang asing

romantis adalah Cemburu yang bagai api, membuat beku saat tak ada, menghangatkan ketika tepat ukurannya, membakar saat meraksasa. cemburu karena Alloh, benci karena Alloh, dan CINTA karena Alloh.. padamu kupilih yang ketiga ukhty! :*
romantis adalah Kau titikkan airmata. Jatuh di pipi kekasih nan tidur di pangkuan. Ujarnya : Jangan sedih, Allah with us. #muhammad dan abubakr iya,jangan sedih…Alloh bersama kita..

all about tho’ifah manshuroh (KEIMANAN THO’IFAH MANSHUROH)

Judul Asli :
Ma’âlim Ath-Thâ’ifah Al-Manshûrah fî Uqri Dâr Al-Mu’minîn (Bilâdu Syâm)
Penulis :
Abu Qatadah Al-Filasthini (Umar bin Mahmud Abu Umar)
Penerbit :
Minbarut Tauhid wal Jihad
<www.abu-qatada.com>
Mawaqi` Ath-Tha’ifah Al-Manshurah
<www.altaefa-almansoura.com>
Penerjemah :
Ust Ali Ghufran

Perangnya Satu Orang dari Kaum Muslimin adalah Jihad, meskipun Tidak Ada Imam

Termasuk bentuk penyimpangan pada masa kini adalah adanya anggapan bahwa perangnya satu orang, sepuluh orang, dua puluh orang, empat puluh orang, dan seterusnya dari kaum muslimin bukan jihad. Begitu juga perkataan bahwa perang tidak ada dan tidak disyariatkan, kecuali dengan adanya imam yang berkuasa. Anggapan dan omongan seperti ini tidak ada dasarnya, bahkan hanya dengan pahamnya saja sudah cukup untuk menghukumi kebodohan dan kekurangannya.

Pendapat-pendapat yang seperti ini dan syarat-syarat yang diada-adakan pada intinya tujuannya hanyalah untuk merusak dan menghapuskan syariat yang ada dan cenderung kepada kehidupan dunia, mau hidup bernikmat-nikmat tanpa ujian, tanpa jihad, karena tidak ada satu pun hadits yang dapat dijadikan dasar atau sandaran bagi orang yang berpemahaman seperti itu. Seharusnya pendapat yang konyol dan syarat-syarat yang tolol ini tidak terlintas dalam benak para penuntut ilmu, dan ucapan para ulama memenuhi kitab-kitab mereka, untuk menyanggah dan membantah pendapat-pendapat yang tolol ini, banyak sekali dalil-dalil syar’i yang menolak buih yang tak berarti ini.

1. Berkata Ibnu Hazm Rahimahullâh, “Persoalan orang-orang kafir diperangi baik yang memimpin kaum muslimin orang yang fasik dari para amir-amir maupun yang tidak fasik, baik dia yang menyerang maupun yang diserang, sebagaimana orang-orang kafir diperangi bersama imam. Mereka diperangi juga meskipun yang memerangi mereka hanya satu orang.” (Al-Muhallâ: VII/299)

2. Berkata Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullâh dalam Al-Mughnî (VIII/353), “Maka jikalau Imam tidak ada, jihad tidak boleh ditunda, sebab dengan menunda jihad maslahatnya hilang. Jika berjihad tanpa imam dan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), maka ghanimah itu dibagikan oleh orang yang ahli sesuai dengan tuntutan syariat.”

3. Berkata Ibnu Taimiyah Rahimahullâh, “Oleh karena itu, menurut As-Sunnah bahwasanya orang yang mengimami manusia shalat adalah shahibul kitâb (orang yang paling memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan orang-orang yang berjihad adalah shahîbul hadîd (orang-orang yang ahli senjata dan perang), sampai urusan terpecah sesudah (kondisi yang normal) itu. Apabila urusan telah terpecah, maka siapa saja yang mengendalikan urusan perang untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan menghukum para penjahat dia wajib ditaati perintahnya, selama sesuai dengan perintah dan ketaatan kepada Allah.” (Majmû’ Fatâwâ: XVIII/158)

4. Berkata Asy-Syaukani Rahimahullâh, ”Kaum muslimin berselisih pendapat tentang hukum memerangi orang-orang kafir di negeri-negeri mereka, apakah disyaratkan adanya Imam A’zham (khalifah) ataukah tidak? Yang benar bahwasanya yang demikian itu adalah wajib atas setiap individu dari kaum muslimin dan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW yang ada, bentuknya adalah mutlak (umum) tanpa terikat (ghairu muqayyad).

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan demikian itu adalah sebagai berikut:

1. Tidak adanya nash yang menunjukkan kepada pensyaratan: Berkata Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah, “Pensyaratan yang tidak wujudnya berpengaruh pada tidak wujudnya sesuatu yang disyaratkan –sebagaimana yang ditetapkan oleh para pakar ushul fiqh– tidak bisa dijadikan sebagai dalil atasnya, melainkan jika ia menunjukkan kepada yang demikian itu, seperti nafyul qabul (tidak diterima), atau sebagai contohnya: tidak ada shalat (tidak sah shalatnya) bagi orang yang mengerjakan shalat di tempat yang najis, karena adanya dalil yang melarang hal tersebut. Adapun hanya sekedar perintah an sich, maka tidak bisa dipakai untuk menetapkan syarat-syarat.” (Ar-Raudhah An-Nadiyah: I/80).

Jadi, mana nash yang menunjukkan kepada syarat ini?! Bahkan terdapat beberapa hadits yang menolak makna ini, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Jihad itu berlangsung terus sejak Allah mengutus aku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal. Jihad tidak batal (terhapus) karena jahatnya orang yang jahat atau adilnya orang yang adil. ”

2. Allah Ta’âlâ berfirman:

“Maka, berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri, dan kobarkanlah semangat orang-orang yang beriman (untuk berperang).” (Q.S. An-Nisa : 84)

Berkata Imam Al-Qurthubi Rahimahullâh, “Ia merupakan perintah Allah kepada Nabi saw, agar berpaling dari orang-orang munafik dan bersungguh-sungguh di dalam perang di jalan Allah walaupun tidak ada seorangpun yang membantunya diatas itu.” Kemudian dia berkata, ”Sudah seharusnya bagi setiap mukmin untuk berjihad walaupun seorang diri. (Ahkamul Qur’an 5/293).

3. Kisah Abu Bashir RA telah jelas dan gamblang dalam kisah beliau r.a bahwa beliau berjihad tidak berada dibawah bendera imam, dia tidak memegangi dan komitmen dengan perjanjian damai yang diadakan oleh Rasulullahsaw dengan orang-orang kafir Mekkah, dan dia memrangi mereka sendirian tidak berada dibawah bendera imam yang berkuasa (Rasulullah saw). Dan kisah Abu Bashir bukan sekedar kisah pribadi seorang shahabat yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah sebagaimana anggapan sebagian orang, bahkan Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah berhujjah dengan kisah tersebut, sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad sewaktu menyebutkan faedah-faedah ditinjau dari ilmu fiqih yang bisa diambil dari perjanjian Hudaibiyah.

Ibnul Qayyim berkata: “Di antaranya bahwa sesungguhnya orang-orang yang membuat perjanjian apabila mereka mengadakan perjanjian dengan imam, lalu keluar dari mereka, segolongan (dari kaum muslimin) kemudian memerangi mereka dan melarang mereka dari menyerang mereka, baik mereka masuk dalam ikatan imam, janjinya dan diennya ataupun mereka tidak masuk dan perjanjian yang terjadi antara Nabi saw, dengan kaum musyrikin bukan mengadakan perjanjian antara Abu Bashir dan sahabat-sahabatnya dengan kaum musyrikin.

Oleh karena itu apabila terjadi perjanjian antara sebagian raja-raja kaum muslimin dengan sebagian ahludz-dzimmah dari kaum Nasrani dan yang lainnya, maka dibolehkan bagi raja yang lain dari raja-raja kaum muslimin, untuk menyerang mereka, dan boleh mengambil harta mereka sebagai ghanimah, jika antara dia dan mereka tidak ada ikatan perjanjian.” Sebagaimana fatwa Syaikhul Islam pada orang-orang Nasrani Multhiyyah dan mengambil mereka sebagai tawanan, berdasarkan pada kisah Abu Bashir bersama kaum musyrikin. (Zâdul Ma’âd: III/309)

Allah ta’ala berfirman;
“Dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…” (Q.S. At-Taubah : 5)

4. Ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dalam memerangi orang-orang yang murtad, “Demi Allah, seandainya tidak tersisa kecuali atom, niscaya aku akan perangi mereka dengannya.” Maka, lihatlah kepada Ash-Shiddiq r.a bagaimana beliau berpendapat wajibnya memerangi orang-orang murtad walaupun seorang diri tanpa yang lain. Maha Suci Allah Dzat yang telah mmebagi-bagikan hidayah dan akal. ”

Dengan Apa Kami akan Dituduh dalam Jihad Kami?

Sesungguhnya musuh-musuh Allah telah berancang-ancang mengatur strategi mereka dalam rangka menjaga keyakinan-keyakinan batil mereka dan kekuasaannya, yaitu dengan melemparkan berbagai macam tuduhan terhadap kaum mukminin, mereka berdusta terhadap Allah Azza wa Jalla, terhadap diri-diri mereka sendiri, dan terhadap manusia dan ini adalah salah satu cara dalam menghalang-halangi dari jalan Allah ta’ala dan sungguh Allah ta’ala telah menyingkap dakwaan-dakwaan ini dan membongkar urusannya bagi orang-orang beriman agar mereka tetap berada diatas bashirah dan cahaya dari Tuhan mereka, maka tidaklah mereda bara api iman yang menyala di dalam hati-hati mereka, mereka tidak berpaling dari syariat-Nya karena segan kepada musuh, dan karena malu jika mereka dituduh dengan berbagai macam tuduhan , dan diantara tuduhan itu adalah sebagai berikut :

1. Kami akan dituduh bahwa sesungguhnya kami berusaha untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Allah Ta’ala berfirman;
“Mereka berkata, Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapat dari nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi… “(Yunus : 78).

2. Kami akan dituduh berbuat kerusakan di muka bumi dan mendatangkan agama baru. Allah Ta’ala berfirman;

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya) “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah dia memohon kepada Tuhannya karena sesungguhnya aku khawatir dia akanmenukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir : 26)

3. Kami akan dituduh bahwsanya dengan mengikuti kami akan membawa kepada kemiskinan dan memacetkan sumber-sumber ekonomi (seperti menghambat pariwisata, menjadikan tempat-tempat mesum dan hotel-hotel menjadi kosong dan macet). Allah Ta’ala berfirman:

Dan mereka berkata: Jika kami mengkuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (Al-Qashash: 57).

Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi. (Al-A’raf: 90)

4. Tuduhan mereka terhadap kami, bahwa kami memaksakan pendapat dengan kekuatan dan penguasaan, tidak melalui saluran mayoritas (pesta demokrasi). Allah Ta’ala berfirman:

Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Fir’aun berkata): Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan yang kecil (sedikit). (Asy-Syu’arâ’: 53-54)

Semua tuduhan tersebut tidak lain tujuannya hanyalah untuk menolak danmemalingkan manusia dari agama Alalh dan petunjuk-Nya. Allah ta’ala berfirman;

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir. (An-Nisâ’: 89)

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (Al-Baqarah: 120)

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami. (Ibrâhîm: 13)

Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempatmu, niscaya mereka akanmelemparkamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, danjika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya. (Al-Kahfi: 20)
Oleh karena itu, wahai saudara Muslim, waspadalah Anda dari fitnah mereka. Pegang teguhlah dengan tali Allah yangtidak akan tersesat orang yang berpegang teguh dengannya, dan kamu akan selamat, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Ketahuilah bahwa di belakang Anda ada jannah (surga) yang abadi.

Tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa. (Al-Qamar: 55)

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Ash-Shaff: 13)

Dan carilah kematian, maka kamu akan diberi kehidupan
Walhamdulillahi Rabbil ‘âlamîn.

Selesai…

ukhuwah itu seutuhnya tentang RINDU..

yang membuat selalu tak sabar untuk BERTEMU

membuat terasa rugi jika tak BERBAGI

ini adalah tentang HATI, HATI yang TERIKAT

tentang do’a-do’a yang saling BERTAUT

ia adalah TULUS yang MENJELMA

ia tersa rumit untuk diungkap, namun NYATA dalam kata SEDERHANA

ia dalam untuk diselami karena ia adalah IMAN yang berupa MAKNA

semoga ALLOH senantiasa MENGIKAT hati hati kita

saling MENDO’AKAN dan MEMBERI SEMANGAT :)

lila-sherlly-rahma-erni-desy-rahma44-meta

aku rindu semangat itu. semoga tetap menjadi saudara di JannahNya kelak :)

insyaAlloh UKHUWAH dengan landasan AQIDAH :)

KALAU TEPUK TANGAN DAN SIULAN SAJA DISEBUT IBADAH, APALAGI HORMAT BENDERA by Fuad Al Hazimi on Friday, June 10, 2011 at 10:51pm

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

 

"Tidaklah sholat (ibadah) mereka (kaum musyrik) di sekitar Baitullah itu, kecuali hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (QS Al Anfal 35) 

 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam Bersabda

 

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

 

“Bukanlah golongan kami, mereka yang mengajak kepada Nasionalisme”,. (HR Abu Dawud)

 

 

« مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ »

 

 

‎ 

"Barangsiapa yang berperang dengan slogan primordialisme, mendakwahkan (mengajak & menyerukan) nasionalisme atau membantu menegakkan nasinalisme, lalu ia mati MAKA IA MATI DALAM KEADAAN JAHILIYYAH". (HR. Muslim)

 

Lalu marilah kita bandingkan antara tepuk tangan dan siulan dengan upacara bendera dan segala pernik-perniknya

 

  • Penanaman Nasionalisme dalam penghormatan bendera dan upacara  adalah dakwah Jahiliyyah sebagaimana hadits di atas

 

  • Mengheningkan cipta adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan ibadahnya agama Hindu, Budha dan Kristen. Sedangkan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam melarang keras meniru upacara agama lain.  

 

  • Di antara bunyi syair lagu Indonesia Raya adalah : “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya UNTUK INDONESIA RAYA = syair ini telah membatalkan pernyataan kita setiap sholat : "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, HANYALAH UNTUK ALLAH RABB SEMESTA INI"

 

  • Dalam lagu Berkibarlah Benderaku terdapat syair “Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela …. “ Apakah ini bukan kalimat syirik ? 

 

Padahal Rasulullah bersabda dalam hadits shahih (artinya) :

 

      واِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللهِ لاَ يُلْقِى لَهاَ بَالاً فيَهْوِى بِهاَ فِى جَهَنَّمَ

 

“Ada seseorang yang mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah, sedangkan ia mengucapkannya tanpa tujuan yang jelas, tetapi disebabkan kalimat itu Allah Melmparkannya ke dalam neraka jahannam” (Muttafq Alaih) . Na’udzu billah

 

 

  • Di antara bunyi syair lagu Wajib “Padamu Negeri” adalah  : “Bagimu Negeri JIWA RAGA KAMI” : ini adalah seruan jahiliyyah dan bertentangan dengan syahadat kita dan bisa menggugurkan ke Islaman pengucapnya

 

Padahal Allah Azza Wa Jalla Berfirman  :

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

 

“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al An’am 162 – 163)

 

 

  • Dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4/52 disebutkan : “Orang-orang Musyrik Quraisy mengelilingi Ka’bah dengan telanjang tanpa sehelai benang pun sambil bersiul-siul dan bertepuk tangan”. Dan ini oleh Allah disebut sholatnya kaum musyrik

 

 Maka kalau sambil telanjang, tepuk-tepuk tangan dan siulan saja oleh Allah disebut “sholat” krn di situ ada makna pengagungan dan ketundukan kpd Latta, Uzza dan Manath, walaupun dalam bentuk yang mungkin aneh bagi kita, apalagi penghormatan bendera yg di dalamnya ada tujuan pengagungan thd bendera, bahkan rela mati demi Sang Saka Merah Putih dsb. Apa bedanya dengan orang Jahiiyyah dulu ?

 

  • Berikut ini tafsir Al Anfal 35 versi Departemen Agama : " Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu".

Seterusnya Allah swt. menerangkan sebab-sebab mereka tidak berhak menguasai Baitullah, dan daerah haram, yaitu karena mereka dalam waktu beribadat, mengerjakan tawaf mereka bertelanjang dan bersiul-siul serta bertepuk tangan.

 

روى عن إبن عباس رضى الله عنهما: كانت قريش تطوف بالبيت عراة تصفر وتصفق

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘Anhu : “Orang-orang Quraisy mengitari Baitullah dalam keadaan telanjang, bertepuk tangan dan bersiul-siul”. (H.R Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas)

 

Dan diriwayatkan juga dari beliau :

وروى عنه: أن الرجال والنساء منهم كانوا يطوفون عراة مشبكين بين أصابعهم يصفرون منها ويصفقون

 

Artinya :

 

“Bahwa orang-orang Quraisy itu baik laki-laki maupun perempuan, mengelilingi Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka saling berbimbingan tangan, bersiul-siul dan bertepuk tangan”. (H.R Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas)

 

  • Manakah yg lebih sakral dan lebih pantas disebut sebagai ibadah : tepuk tangan dan siulan atau upacara bendera dengan segala tata tertib nya ?

 

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa makna ibadah adalah : “Ketundukan, ketergantungan, kepatuhan, merasa takut dengan hukuman yg akan ditimpakan, menyerah pasrah, mencintai dan merasa kehilangan manakala tidak ada di dekatnya” . BUKANKAH INI SEMUA YANG AKAN DITANAMKAN KEPADA RAKYAT INDONESIA TERHADAP BENDERA DAN TANAH AIRNYA DALAM SETIAP UPACARA DAN PENGHORMATAN BENDERA ?

 

Dalam Syarah Kitab Tauhid, disebutkan :

تفسير العبادة، وهي: التذلل والخضوع للمعبود خوفاً ورجاء ومحبة وتعظيماً    القول المفيد على كتاب التوحيد -

 

Tafsir dari Ibadah adalah : “Merendahkan diri dan tunduk patuh kepada yang diibadahi, dengan disertai rasa takut (akan hukuman), kecintaan yg dalam dan penghormatan serta pengagungan kepadanya " (Al Qaul Al mufid ‘Ala kitab Tauhid juz 1 hal 320)

 

Untuk lebih memperjelas makna IBADAH, berikut tambahan saya

 

Allah Azza wa jalla berfirman (artinya)

“Mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadikan orang-orang ‘alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh”. (QS At Taubah 31)

 

Apakah yang dimaksud menjadikan orang-orang ‘alim dan rahid-rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allâh? Apakah mereka sujud, menyembah kepada orang-orang ‘alim dan rahib-rahib itu seperti orang-orang musyrik menyembah berhala ?

 

Al-Imâm Ibnu Katsîr telah menjelaskan masalah ini dengan sebuah hadits dari jalur Al-Imâm Ahmad, At-Tirmidzî dan Ibnu Jarîr; yaitu hadits yang mengisahkan kedatangan ‘Adî bin Hâtim ke Madînah dalam rangka kunjungannya yang pertama kepada Rasûlullâh Shollallohu ‘alihi wasallam .

 

— ketika itu ‘Adî masih beragama Nasrani — dan memakai kalung salib dari perak. Maka Rasûlullâh saw. pun membacakan ayat ini (Surah At-Taubah (9) : 31) di hadapan ‘Adî bin Hâtim : “Mereka (Yahûdi dan Nasrani) menjadikan orang-orang ‘alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh”. (QS At Taubah 31)

 

 

'Adî bin Hâtim segera menyanggah dengan mengatakan :

“Sesungguhnya mereka tidak pernah ber’ibâdah (menyembah) kepada orang-orang ‘alim dan para pendeta”.

 

Maka Rasûlullâh Shollallohu ‘alihi wasallam pun segera menjawab : Sesungguhnya orang-orang ‘alim dan para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal terhadap mereka dan menghalalkan sesuatu yang haram, maka mereka pun menta’atinya. Demikian itulah penyembahan (ibadah) mereka kepada orang-orang ‘alim dan para pendeta itu. (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz II hal.348)

 

 

Mereka memang tidak melakukan sujud kepada para pendeta atau orang-orang ‘alim mereka, akan tetapi mereka mentaati para pendeta dan orang-orang ‘alim itu sedemikian rupa hingga hukum halal-haram bagi mereka adalah menurut aturan pendeta dan orang ‘alim, bukan menurut Allâh. Inilah pengertian atau makna ‘ibâdah yang sesungguhnya; yaitu : “Ta’at (patuh) dan merendahkan diri”, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

 

Bukankah sikap pemerintah terhadap mereka yang menolak menghormat bendera atau menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan alasan Nasionalisme atau berbagai alasan lain yang yang mengada-ada sudah sangat nyata menunjukkan betapa bendera dan lagu kebangsaan dikultuskan sedemikian tingginya bahkan melebihi Rasulullah ?

 

Pernahkah pemerintah ini sedemikian gusar melihat orang yang tidak puasa, tidak sholat atau tidak membayar zakat seperti gusarnya mereka melihat orang tidak mau hormat bendera ?

 

Apakah mereka sebegitu gusar manakala lafadz “Allah” diinjak-injak oleh Ahmad Dhani atau saat Lia Eden mengaku sebagai Nabi, atau Ahmadiyyah menodai Islam ? Bukankah bendera Merah Putih, Indonesia Raya dan simbol-simbol jahiliyyah lainnya, lebih mereka junjung tinggi dan mereka hormati dibanding Allah dan Rasul-Nya.

 

 

Di NKRI ini seseorang bisa bebas menghina Allah, Rasulullah dan Dien Al Islam, tapi mereka  tidak boleh sama sekali menghina Merah Putih atau Garuda Pancasila. Hukuman penjara telah menanti  Allahu Musta’aan.

 

Sikap represif pemerintah terhadap mereka yang tidak mau hormat bendera atau ikut upaca bendera, semakin menunjukkan bahwa ini bukan sekedar masalah sepele, tapi ini soal IMAN dan AQIDAH.

 

 

Masihkah kita ragu bahwa musuh-musuh Allah  sudah mengobok-obok aqidah dan iman kita serta mengancam syahadat anak istri dan keluarga kita ?

 

 

CATATAN PENTING ;

 

Bukan hukum tepuk tangannya atau bersiul  yg kita masalahkan, tetapi pengagungan sesuatu selain Allah dengan cara bertepuk tangan dan bersiul. Bukan hanya tepuk tangan yang bisa disebut ibadah, bahkan kedipan mata seorang pendeta Barghisah yang merupakan isyarat ketundukan dan kepatuhan kepada iblis, sudah menyebabkannya murtad. Silahkan antum baca Tafsir surah Al Hasyr ayat 16

 

“Seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.” (QS Al Hasyr 16)

 

APAKAH LALU BERARTI MENGEDIPKAN MATA HUKUMNYA HARAM ?

 

Yg sedang saya bahas di sini adalah bahwa  ibadah bukan hanya rukuk sujud, bahkan tepuk tangan, kedipan mata, desiran hati pun bisa menjadi ibadah jika itu dimaksudkan sebagai pengagungan, kepatuhan, ketundukan dan ketaatan mutlak kpd sesuatu

air mata itu

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rosul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari
kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad sholallohu ‘alayhi wasalam.) QS. Al-Maaidah (5) : 83.


GHUROBA…GHUROBA…GHUROBA…
Prophet Mohammed said: “Blessed are those who are foreign (alghuroba ‘). (They are)
righteous people in the middle of those who behave
bad. And the enemy is more than their followers. “(saheeh hadeeth narrated by Ahmad)

MENIKAH LEBIH PENTING DARIPADA MELANJUTKAN STUDI